Risalah Taklid

Judul Asli : Risalah At-Taqlid
Judul Terjemah : Risalah Taklid, Jangan Kamu Ikuti Apa yang Kamu Tidak Tahu
Penulis : Ibnu Qayyim Al-Jauziyah
Halaman : 319
File ebook : 1.8 MB DJVU


Umat Islam, sejak diutusnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan masa empat khalifah Rasyidin, bernaung dibawah hati seseorang. Tidak ada dari mereka yang melakukan penyimpangan ataupun pentakwilan. Bahkan keseluruhannya mengikuti apa yang datang dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Mereka mengikuti dan menerima apa yang shahih (hadits) dan menolak apa yang maudhu’ (hadits). Sampai-sampai, Ibn ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhu meletakkan jari-jarinya pada kedua telinganya, sedang seseorang menuturkan hadits dan berkata kepadanya: “Wahai Ibn ‘Abbas, hadits ini adalah hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.” Maka ia (Ibn ‘Abbas) berkata kepadanya: “Kami telah mendengar hadits ini, sehingga apabila dibicarakan didalamnya seseorang yang berbicara, maka kami memelihara telinga-telinga kami dari mendengarnya.”

Demikianlah faktanya. Sampai gerakan-gerakan dan manufer-manufer politik serta perbedaan-perbedaan madzhab tampak, hingga menyeru pengikut-pengikut setiap madzhab untuk menentang madzhab yang lain. Bahkan telah mencapai taraf kefanatikan kepada para pengikutnya, dimana setiap dari mereka berani berbuat lalim dan menyerang pengikut-pengikut madzhab yang lain.

Mereka tidak mempertimbangkan, tidak mempertahankan dan tidak hafal pendapat-pendapat Imam-imam mereka dalam hal ini.

Imam Thahawi berkata: ‘Tidaklah akan mengikuti tata cara yang demikian, terkecuali karena kefanatikan dan ketidak mengertiannya.”

Imam Malik berkata: “Tidaklah seseorang setelah meninggalnya Nabi, dimana ia dihukum karena ucapannya dan ditinggalkan, terkecuali hanya terjadi pada masa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.”

Imam Syafi’i berkata: “Setiap masalah yang didalamnya terdapat kebaikan, kebenaran, yang datang dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka menurut ulama naqh berbeda dengan apa yang aku ucapkan. Kemudian aku mencabutnya, baik dalam hidupku dan setelah kematianku.”

Penjelasan-penjelasan dari Imam Ahmad dalam masalah ini lebih banyak lagi, meskipun tidak tertulis dalam bentuk kitab-kitab yang tersusun secara sistematis, terutama dalam bidang fiqih. Namun, persepsi-persepsi dan pemikiran-pemikirannya dituturkan. Seperti yang didapat dalam kitab Masaailu Al Imaam, karya puteranya sendiri, yakni ‘ Abdullah, dan yang lainnya. Sebagian dari mereka mengikuti apa yang bersumber dari beliau (Imam Ahmad), sehingga ia berkata: “Barangsiapa yang menolak hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka ia telah berada dibatas kehancuran.”

Kami ajukan dihadapan pembaca sebuah risalah yang kami ambil dari kitab beliau (Ibn Qayyim) yang berjudul (I’laamul Muwaqqi’iin). Seseorang tidaklah sembunyi dari orang yang sibuk menelaah kitab-kitabnya, karena beliau (Ibn Qayyim) memiliki langkah yang cukup panjang dalam mendiskusikan berbagai permasalahan yang aktual dan memberikan penjelasan dalil-dalil yang valid menurutnya, utamanya pada saat memperdebatkannya. Tidaklah kami mengajak pada hal ini, terkecuali karena apa yang kami lihat dari kemalasan masyarakat umum di masa kita untuk menelaah dan membaca. Sebagaimana mereka telah bersikap taklid yang membuta, hingga seseorang merasa cukup dengan bertanya kepada seorang ulama dan menerima begitu saja jawaban yang diucapkan kepadanya. Atau dengan pemberitahuan dengannya, yakni: “Letakkanlah jawaban itu di leher orang alim, dan bacalah dengan menerima saja.” Para syaikh dari pengikut-pengikut madzhab berpegang kepada pendapat, bahwa kebodohan agama telah tersebar dan menutupi setiap pemahaman ke-Islaman. Akal-akal masyarakat pada masa kita telah terhalang untuk memahami maksud dari suatu hadits Rasulullah. Seakan-akan beliau diutus untuk selain kita, dan berbahasa dengan bahasa selain bahasa kita, hingga Allah dapat mentolerir sikap yang mereka ambil.

Oleh sebab itu, syaikh Al Albaani berkata: “Demikianlah kejumudan bermadzhab, nampak dengan sikap mempertahankannya dan melindunginya, walaupun apa yang mereka pertahankan itu bertentangan dengan Sunnah Rasulullah, dimana hal itu merupakan penyakit yang sangat berbahaya, yang memungkinkan terdapat dalam hati manusia pada setiap negara Islam. Terkecuali bagi orang-orang yang dilindungi oleh Allah. Namun sayangnya, jumlah mereka itu sangatlah minim” (lihat dalam kitab Shifaatu Ash Shalaati An Nabi, hal. 7).

silakan baca registrasi untuk mendapatkan ebook ini

Tentang mykampungsunnah

yoga permana tea teu bireuk deui
Pos ini dipublikasikan di Fiqih dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s